Laman

Rabu, 11 Mei 2011

TEKADKU

Kukumpulkan segenap kekuatan, bangkit dari keterputukan bersama serpihan iman yang masih tertinggal didada. Entahlah begitu inginku mempartahankanya hingga detik ini.Walaupun dulu aku sangat mengagumi, mencintainya dengan segenap perasaan yang menggebu namun ku tak rela kaki melangkah memasuki satu ruang asing bagi jiwaku, yaitu kepercayaan lain yang engkau haruskan dan menjadi syarat utama selain cinta untuk hidup bersama berdua denganmu.
Sejauh mana aku mencintainya, sejauh pula aku ingin meninggalkanya.
Biarpun malu di terpa hinaan, cacian, makian bahkan ludahan tapi tak mengapa.
"Bodoh" mungkin cap yang terucap untuk diriku bagi kaum-kaummu yang mendukungmu.Kau punya segalanya, kedudukan, kehormatan, pangkat, namun hidupku bagai gersang disisimu.Semua itu polesan tak ada ketulusan yang ada hanya ambisi dan keangkuhan. Hati dan pikianmu picik, licik memanfaatkan segala peluang yang ada tak terkecuali aku kau jadikan obyekmu agar apa yang menjadi cita-citamu terkabul.

Semakin hatimu penuh ambisi, semakin pula aku ingin berlari manjauh...
Hatiku mulai tak pernah tenang karena semakin aku tahu dirimu yang sesungguhanya
Kini aku telah bebas, merdeka dari jerat cinta palsumu, melangkahkan kaki ke arah tujuan hati. KEMERDEKAAN yang hakiki telah kudapati kini, mungkin aku dianggap bodoh mempartahankan Iman didada.

3 komentar:

  1. Walau kurang tahu tentang puisi....yang jelas dapat menangkap makna yang ada...!
    Mbok dikasih buku tamu ( chatbox ),cuma usul...!!

    BalasHapus
  2. makasih atas kunjungannya,ya nanti saya kasih buku tamu pluh suguhan sekaligus he he

    BalasHapus
  3. iya ya , coba ntr tk utak atik, maklum masih nunak nunuk, makasih kunjunganya

    BalasHapus