Gending ayun-ayun masih mendayu tangan gemulaiku tak lelah menari mengiringi dini hari yang dingin. Pria yang menjadi pasangan menariku (pelandang) tak jemu-jemunya mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh wajahku, dengan sigapnya aku bisa menghindarinya di sela gelu putaran leherku. Entah sudah berapa puluh laki-laki yang ngibing bersamaku menari, menarikan tarian jiwa yang sakral ini. Kadang kala sampai ada yang tak sadarkan diri dan mendem akhirnya ia akan memakan apa yang menjadi keinginanya mengambil sesajen, kembang setaman, jajan sak pasar, dan air tujuh sumur, kelapa muda bahkan beling pun ia makan hingga benar-benar ambruk ke tanah dan tak bias bergerak lagi. Liukan tangan lenggerku, sabetan sampurku mempesonakan tiap tatap mata yang ada. Begitu menyatu jiwa raga dan darahku melebur jadi satu bagian yang tak terpisahkan dari seni tari lengger ini.
Sambil duduk aku teguk teh tubruk kesukaanku, kemanapun pergi aku tak lupa membawanya. Tukino bujang culun pesuruhku sudah tahu apa yang mesti dibawa dan disediakan saat aku mau pentas. Rokok klobot tak ketinggalan pula, berpuluh-puluh linting (gulung) siap hisap telah tersedia, ku ambil satu batang kemudian aku sulut menggunakan sentir, kuhisap dalam-dalam setelah itu ku matikan kembali. Rokok klobot laris manis bak kacang goreng bahkan lebih laris dari kacang goreng itu sendiri. Sudah mengantri yang ingin meneruskan hisapan rokokku lebih nikmat kata mereka. Tidak aku sia-siakan kesempatan ini rokok klobot ku hargai 10 ketip kalau yang baru belum aku hisap malah hanya 3 ketip saja.
Aku sendiri tidak tahu yang sesungguhnya bersemayam dalam raga ini begitu mempesona mempunyai daya pikat yang tinggi selain wajahku yang benar-benar cantik, berkulit putih seperti bule tak sama dengan orang-orang jawa pada umumnya. Di saat aku menari seolah-olah terpancar cahaya dari wajahku sehingga banyak yang tergila-gila padaku. Sedari usiaku belia belasan tahun aku sudah dinikahkan dengan seorang laki-laki. Belum becus membuang ingus, masih tidak tahu malu bertelanjang dada tapi sudah menikah, mana tahu arti pernikahan yang sesungguhnya yang akau tahu hanya bermain, bermain dan bermain. Suamikupun kemudian menceraikan dan mengembalikanku kepada orang tuaku, betapa senangnya aku waktu itu karena aku kangen ngempeng sama simbok akan terobati. Belaian tangan simbok menyibak-nyibakan rambutku sambil nyondro dandang gulo dan akupun terlelap dalam pelukan hangatnya.
“Nduk… Sekar kowe wes gede ora pareng ngempeng maneh yo, sesuk tak dereke Pak Hadi sinau nari “ tutur simbok.
“Nari opo, Mbok” tanyaku balik.
“Yo nari opo wae gawe kepinteranmu ”terang simboku.
Aku hanya manggut-manggut saja manut sama simbok, pikirku lebih asyik dari pada ikut suamiku kemarin. Kata simbok dan bapaku aku sudah di takdirkan menjadi lengger/tledek/ronggeng (Banyumas) sudah titisan kata mereka. Kenapa aku dinikahkan buru-buru mungkin agar aku segera membangun balai wismo agar titisan tersebut pudar dengan sendirinya namun takdir adalah takdir dalam darahku telah mengalir darah lengger. Gending tembang sontoloyo pengiring tarian Kinanti telah usai, kini giliranku tampil lagi dengan gending eling-eling Banyumasan kulangkahkan kakiku menuju tengah palagan disana telah menunggu lelaki bau kencur siap menjadi pasangan menariku, kuraih sampur yang menjuntai di dada kusibak kesunyian malam menjelang pagi ini dengan sepenuh hati terhanyut gending “ Eling-eling” yang mempunyai arti pitutur mengingatkan yaitu “Eling” adalah ingat, orang hidup haruslah selalu ingat kepada jalan kebenaran.
”Eling-eling, sapa eling baliyo maning” Ingat-ingat, siapa ingat kembalilah…
“GOOOOORRRRRRRRRR…RRRRRRRRRRR” suara gong besar menggema menandakan gending segera usai, semua pengrawit dan waranggono segera bangkit dari duduknya dan akupun melangkah masuk kedalam rumah yang mempunyai hajat menumpang istirahat karena sore harinya akan melanjutkan pejalanan ke desa lain yang telah menanggapku dan rombongan lenggerku. Entah sudah berapa desa yang penah aku singgahi dari yang paling pelosok hingga kota kabupaten. Entah berapa juga lelaki yang pernah menjadi suamiku namun semua berakhir perceraian karena tidak tahan menahan cemburu saat aku mentas menari bersama laki-laki lain.
Dan haripun telah sore kami siap-siap melanjutkan perjalanan malam menuju desa lain sambil mengangkut gemelan. Begitulah perjalanan kami rombongan lengger yang sesungguhnya, mengunjungi satu persatu, setapak demi setapak langkah rombongan sambil membawa perankat gamelan dan jika malam telah larut belum sampai juga di tempat tujuan kami menginap semantara dirumah penduduk setempat. Begitulah kisah rombongan lengger yang ku jalani selama ini, berpindah-pindah memenuhi tanggpan, kalau sedang musim paceklik atau sepi tanggapan barulah kami kembali tinggal di kampong sembari menunggu panggilan tampil, dirumah aku tak tinggal diam aku jualan kecil-kecilan membuat tempe kemul, cucur, cenil, grontol, dan jajanan yang lainya.
Puncak kejayaan dari perjalananku sebagai lengger saat aku tampil di pendopo kabupaten dimana banyak punggawa-punggawa bupati menjadi penonton dan pelandangnya. Malam itu purnama mengembang ditengah malam penuh hiruk pikuk penonton dan gending-gending bercampur baur menggelora melebur dinginya udara malam. Berpuluh pasang mata menatapku jalang nan takjub, wajahku yang ayu diterpa cahaya rembulan memantulkan kacantikan yang luar biasa mampu menyihir suasana menjadi hening. Kulit putih mulusku terbungkus kain sido mukti, berkemben beludru penuh manik-manik cantik, sampur sutra menjuntai, kuluk bulu merak memahkotai rambutku yanga ngandan-ngandan menambah sempurnanya penampilanku malam itu.
Dengan anggunya ku gendong golek kencana dan memayunginya, membawanya menari melanakanya dalam buaian kehangatan kasih sayang beriring tembang gondang keli.
”Gondang keli, Romo...” suara waranggono melengking dengan syahdunya bagai lagu kedukaan yang mandalam. Melayang bak di awan tubuhku menjulang dipundak sang perkasa mencengkeram erat kakiku agar tidak jatuh, serasa terbang ke nirwana ketujuh, ku persembahkan tarian ini kepada yang Hyang Widi…... sebagi tanda terimaksihku kepadaNya telah menitiskan darah seni ini kepadaku. Tak semua lengger yang mampu melakukanya menari diatas pundak, melayang-layang anganku, jiwa ragaku dan sukmaku terbang bersama membumbungnya asap dupa ke udara. Mungkin bukan aku saja yang mampu melayang seluruh penonton pun demikian, decak kagum terlihat jelas dari raut muka mereka. Aku menang……, aku menang mampu menaklukan, meluluhkan lantakan perasaan setiap pria pengagumku. Bisikan emosi penuh ambisi menyingkirkan lengger-lengger sainganku yang lainya. Dan akulah sang primadona, riuh rendah tepuk tangan hujan hadian dan saweran.
Tak khayal salah satu abdi dalem juru tulis pendopo kabupaten jatuh hati dan tergila-gila kepadaku, akupun dipersuntingnya menjadi istrinya, ia adalah laki-laki ke sepuluh yang menjadi suamiku dah aku berharap ini adalah pernikahan terakhirku. Bak ratu hidupku penuh gelimang harta dan curahan kasih sayang. Derajadku terangkata aku tak lagi menjadi lengger tanggapan aku hanya menjadi nyonya dari suamiku tercinta. Kutinggalkan segala hingar bingar panggung hiburan, kini aku menjadi istri pejabat kemanpun aku selalu dikawal dan dihormati, tunduk mantuk dari siapa saja yang bertemu denganku. 24 jam pembantu siap melayani dan akupun begitu menikmati hingga waktu terus berjalan enggan berhenti hingga tanpa terasa 10 tahun sudah terlewati membina rumah tangga bersamanya.
Sore yang termaram kunikmati secangkir kopi dan memandang bunga mawar di teras rumah sambil menunggu suamiku Mas Sukarto Nitinegara, Tiba-tiba aku di kejutkan kedatangan seoarang wanita menggendong bayi.
“Kulonuwun… “Sapanya.
“Mongo… ” jawabku.
“Leres daleme Pak Karto…?” tanyanya.
“Njih, leres…?!” jawabku sambil mempersilahkan masuk.
Wanita lugu ini tertunduk sendu dalam kedukaan yang mendalam jelas sekali terlihat dari pancaran matanya.
“Mbak ini siapa? Tanyaku penasaran.
“Saya Murni, Mbak” sambil menyerahkan bayi mungil ke pangkuanku, terang saja aku kaget bukan kepalang.
“Saya titip anak saya, Mbak… ini anak Mas Karto, Mbak” ujarnya lirih.
Bagai disamber geledek, tercengah diri ini tak sanggup aku mempercayainya kenyataan di depan mata suamiku yang aku percaya setia dan sayang kepadaku ternyata teganya menghianatiku sedemikain rupa. Tak sanggup membayangkan lagi apa yang harus aku lakukan, tak bisa berkata apa-apa lagi hanya linglung memangku bayi mungil ini. Murni lantas melangkah pergi, bersamaan dengan itu suamiku pulang dia juga sangat terkejut semburat jenggah malu terpancar dari wajahnya kala malihat Murni wanita simpananya datang ke sini. Aku terkasiap tersadar dari tidur panjangku menyadari kekuranganku selama ini tak mampu memberikan keturunan untuk suamiku. Dengan segera ku susul Murti menahanya dan membawanya kembali dan menyerahkan anaknya. Duduk kami bertiga dalam keheningan sesekali celoteh si kecil terdengar, polos tatap matanya tanpa dosa mampu membuatku luluh dan pasrah. Tuhan memberiku banyak kelebihan harta, kemewahan, ketenaran, dan kecantikan yg luar biasa namun tak mempercayakan kepadaku harta yang paling berharga sesungguhnya yaitu anak, aku sadar kini aku rela melepas semuanya dan aku akan pergi dari kehidupan mereka bertiga, biarlah aku yang mengalah. Janganlah takabur jika roda kehidupan sedang berada di atas dan keberuntungan berpihak kepada kita pada saatnya nanti semuanya akan kembali padaNya kini aku benar-benar menyadarinya betapa sesungguhnya semua yang ada padaku adalah titipanya semata.
“ Mas” sapaku untuk suamiku.
“Menikahlah kalian berdua saya iklas bagaimanpun juga Dik Murni adalah ibu dari darah dagingmu, maafkan aku tak mampu memberikan keturunan untuk generasi penerus keluarga, Mas” lanjutku pilu.
“Tidak, Bune… walau bagaimanapun aku tidak akan mencaraikanmu” kata Mas Karto gemetar.
“Sudahlan, Mas ibarat nasi telah menjadi bubur sekarang yang lebih penting adalah pertanggung jawaban Mas kepada dik Murti dan anakmu sendiri” tuturku.
“Mbak… tidak Mbak jangan pergi biarlah saya yang pergi asal kalian mau manerima anaku dan bejanji mengasuhnya baik-baik saya sudah nrimo” sela Murti kemudian.
“Tidak, Dik bagaimanpun juga kamu adalah ibu kandungnya tidak ada yang lebih mencintai anak-anaknya selain ibu kandung” tolakku.
Aku tatap wajah Murti lekat-lekat dan menatap matanya untuk meyakinkan ucapanku adalah tulus ia pun tertunduk.
“Kalau boleh saya titip nama buat anakmu Dik Murti ?”pintaku.
“Boleh Mbak”sahutnya tak berdaya.
“ Sekar Laras Lumintu” spontan saja aku mengucap nama itu, Sekar aku ambil dari namaku Sekarsih.
“Terimakasih” ucap Murti kepadaku.
“Mas Karto sekarang juga saya pamit, jangan fikirkan aku lagi yang terpenting sekarang adalah Sekar dan masa depanya nanti”lanjutku.
“Iya, Bune aku akan menikahi Murti tapi dengan syarat kamu juga jangan pergi dariku, tetaplah disini manjadi ibu juga bagi anaku Sekar Laras anakku” pinta Mas Karto penuh pengaharapan.
“Tidak, Mas walau bagaimana saku tetap wanita yang tidak rela harus berbagi kasih dengan yang wanita lain” tegasku lagi diiringi deraian air mata.
Kuakui masa lalu ku sebagai lengger membuatku harus kawin cerai namun aku juga wanita yang tak mampu berbagi cinta dengan yang lain. Keputusanku sudah bulat aku tak mau menjadi yang pertama karena ada yang kedua dengan kata lain aku tak mau dimadu.
Mas Karto tidak bisa berbuat apa-apa lagi mendengar penjalasanku yang begitu tegas dan jujur.
“Lha Bune mau kemana sekarang hari sudah sore begini biar Tukino ikut lagi ya?” tawar Mas Karto kepadaku.
“Aku mau pulang ke kampungku ke rumahku yang dulu dan Tukino pun tidak usah lagi menjadi jongosku biarlah di sini ia menjadi pelayanmu atau kemana saja ia suka mencari makna hidupnya sendiri” ucapku datar.
Walau bagaimana hatiku terluka dan memlbur lara, penghianatan tetaplah penghianatan, namun demi bayi mungil tak berdosa itu aku rela melepas suamiku untuk menikahi wanita simpananya demi anak yang sudah terlanjur lahir ke dunia ini. Aku melangkah masuk ke kamar untuk berkemas tidak berapa lama aku keluar lagi sambil membawa buntalan pakaian, tak banyak barang yang aku bawa hanya beberapa lembar pakaian dan perhiasan ku sendiri yang aku beli dari hasil tanggapan menari dulu, perhiasan Mas Karto aku tinggalkan di atas meja rias kamar bersama luka hati yang menganga ini. Kusalami satu persatu, suamiku Mas Karto, Murni, dan Tukino, dia menangis meraung-raung bagai anak macan kehilangan induknya, ia anak yatim piatu sejak kecil ia ikut denganku ku anggap sebagai keluargaku sendiri di samping ia melayaniku dan menjadi abdi bagiku kini kau bebas menjadi dirimu sendiri karena sesungguhnya dia manusia merdeka yang berhak menemukan hidupnya.
Melangkah meninggalkan rumah megah, mewah penuh kenikmatan, pelayanan dan penghormatan sama saja mlorot drajade namun inilah keputusanku kembali ke kampung halaman menatap kenyataan, menjalani takdir dari Sang Illahi. Bahwasanya hidup hanya sak dermo nglakoni, suka, duka, ada kelahiran ada kemtian ada pernikahan ada pula perceraian semua sudah menjadi kodratnya. Menyusuri jalan nan sepi kutempuh jalan pintas jalan setapak penuh hutan gombol membawa obor. Tidak ada rasa takut sedikitpun dalam diri karena aku tahu pasti ada yang menjagaku kemana pun aku pergi, macan putih penjelmaan Eyang buyutku, sulit di percaya memang tapi nyata adanya. Menjelang pagi aku sudah sampai di rumahku mungil tak terawat, seluruh kampung geger apa yang terjadi denganku. Dengan apa adanya, tidak ada yang aku tutup-tutupi dan tidak aku tambah-tambahi semua aku ceritakan toh suatu hari akan ketahuan juga kalaupun aku tidak cerita, namanya juga orang banyak baik ya diomong apa lagi jelek. Panen simpati dan banyak pula yang ngerumpi. Biarlah berlalu dengan sendirinya. Orang hidup besok mau terjadi apa kita tidak tahu hanya harapan melihat mentari esok hari dan menjadi penyemangat usaha untuk menjalani hidup lebih baik.
Namun aku tidak putus asa demi bertahan hidup, akhirnya aku jual semua perhiasanku sebagai modal usaha kecil-kecilan buka warung dirumah demi kelangsungan hidupku, dari berdaganglah aku bisa bertahan hingga saat ini, hidup sebatangkara tanpa anak saudara, family membuatku sepi tapi tak apalah kuhibur diriku sendiri agar tidak terlarut dalam kesedihan. Sudah menjadi satu prinsip, aku tidak mau menengadahkan tangan begitu saja mengharap belas kasihan dari orang lain selain jualan makanan kecil aku juga membantu mengasuh anak yang ibunya sibuk di siang hari sebagai guru. Dia menitipkan anaknya padaku di saat brangkat mengajar dan mengambilnya pulang kala pulang mengajar. Denok Wardani, montok badanya, wajah dan kulitnya putih, berambut keriting kriwel-kriwel bagai mie instan, Denok begitu lengket kepadaku kadang ibunya pulangpun enggan bila dijemputnya. Malam harinya sering menginap di rumah ibunya tidak keberatan sama sekali bahkan ia ngempeng seperti aku ngempeng pada Simbokku dulu. Walau aku hanya buruh bayaran aku menyayangi Denok bagai anakku sendiri sedikit ikut merasakan menjadi ibu membuatku lebih semangat lagi menjalani hidup ini, terobati kesunyianku selama ini celoteh Denok kadang membuatku gemas dan selalu menghiburku.
Hari demi hari telah berlalu, jaman pun telah berubah, pekambangan sangat pesat tranportasi semakin lancar, pembangunan meningkat bahkan kecanggihan teknologi digital, internet merajalela sampai ke kampung pelosok sekalipun. Berterimakasihku padaMu Ya Rob… memberiku kesempatan berumur panjang sehingga bisa menikmati hidup ini yang begitu indah dan penuh warna-warni, penuh asam manis, pahit, getir, semuanya pernah aku rasakan, aku kenyam dan itulah sisi kehidupan yang sesungguhnya.
Catatan :
1.Ngibing : menari
2.Beling : pecahan kaca
3.Gendewo pinentang : tanda sikap tubuh (tangan) yang berbakat menari dan luwes
4.Tabokan : pukulan
5.Linting : gilungan
6.Sentir : lampu kecil berbahan bakar minyak jarak/ tanah
7.Rokok klobot : rokok dari daun jagung muda
8.Ketip : salah satu nama mata uang waktu itu
9.Ngempeng : menetek
10.Nyondro : menyanyi dengan lagu-lagu jawa
11.Lengger/ tledek/ ronggeng : penari wanita / penari tayup
12.Nrimo : rela
13.Balai wismo : rumah tangga
14.Sontoloyo, eling-eling, Gondang keli : nama-nama tembang/ gending di dalam kesenian lengger
15.Mlorot drajade : turun drajadnya
16.Sak dermo nglakoni : sekedar menjalani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar